Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan
(QS. Al Baqarah : Ayat 245 )
Tampilkan postingan dengan label kisah keajaiban sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah keajaiban sedekah. Tampilkan semua postingan

Kisah keajaiban sedekah


bismillah basmallah Menyingkap Cara Untuk Meraih Rezeki
Kita awali dengan sebuah Kisah keajaiban sedekah. Kisah yang menunjukkan bagaimana Allah sangat menghargai amal hamba. Tuhan Yang Maha Mendengar tidak akan menyia-nyiakan kebaikan makhluk yang Dia ciptakan.

Tersebutlah seorang ibu solihah. Beliau memiliki seorang putra yang menjadi tulang punggung keluarga. Di rumahnya yang penuh keterbatasan, sang ibu menunggu kapan putranya pulang. Dia pergi melakukan safar yang jauh. Hingga sang ibu putus asa, sementara sisa makanan tinggal cukup beberapa hari.

Suatu hari sang ibu sedang bersiap untuk menyantap makan siangnya. Ketika beliau mengambil suapan pertama dan siap untuk dilahap, tiba-tiba di depan pintu ada pengemis yang meminta makanan. Beliaupun tidak jadi melanjutkan suapannya. Beliau menaruh suapannya dan menyerahkan satu porsi makanan itu ke pengemis. Sehari itu, sang ibu menahan lapar.


Ternyata selang beberapa hari, tibalah putranya yang lama dia nantikan. Mulailah dia bercerita tentang kejadian yang luar biasa kepada ibunya,

Ada kejadian luar biasa yang aku alami. Setelah beberapa hari saya melintasi jalur di daerah tertentu, tiba-tiba keluar seekor singa. Sehingga akupun memegang erat punggung keledai yang aku naiki. Namun singa itu menyerang keledai. Dan kuku singa itu telah mengoyak jaket yang aku bawa, baju dan jubahku. Ketika cakarnya menghantam badanku, saya tercengang dan hampir hilang ingatan. Singa inipun membawaku dan menyeretku ke belukar yang tidak jauh. Dia bersiap untuk mengoyakku.

Tiba-tiba saya melihat orang berbadan besar, wajah dan bajunya putih, datang dan langsung memegang singa tanpa senjata. Dia naik dan pergi menghilang.

Ketika itu, orang besar tadi mengatakan: ‘Berdirilah wahai singa, satu suapan dengan satu suapan.’ Singa itupun berdiri dan lari meninggalkanku.

Akupun mencari lelaki itu, dan aku tidak berhasil menemukannya. Saya duduk menenangkan diri di tempat itu dan kembali mengambil bekal makananku. Akupun memperhatikan badanku, ternyata tidak ada satupun yang terluka. Kulanjutkan perjalanan, hingga aku bisa menyusul rombongan. Mereka sangat terheran melihat kejadian yang kualami. Namun saya kebingungan, apa makna ‘satu suapan dengan satu suapan.’

Mendengar ini, sang ibu memahami. Karena kejadian itu bersamaan dengan peristiwa saat beliau memberikan sedekah makanan. Beliau tidak sempat menelan satu suap, dan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Dengan itu, Allah selamatkan anaknya dari ‘suap’ singa.
[Kisah ini disebutkan oleh At-Tanuji dalam kitab: Al-Faraj ba’da As-Syiddah]

Sejuta Keajaiban Sedekah
Sedekah, mendengar namanya, orang sudah kenal keutamaannya. Sedekah berasal dari As-Shidq, artinya jujur. Seorang muslim yang bersedekah berarti dia membuktikan kejujurannya dalam beragama. Betapa tidak, harta yang merupakan bagian yang dia cintai dalam hidupnya, harus dia berikan ke pihak lain. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai 'burhan' (bukti). Dalam hadis dari Abu Malik Al-Asy'ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالصَّلَاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

"Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-Quran bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu." (HR. Muslim 223).

Sedekah disebut 'burhan' karena sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang. Artinya, sedekah dan pemurah identik dengan sifat seorang mukmin, sebaliknya, kikir dan bakhil terhadap apa yang dimiliki identik dengan sifat orang munafik. Untuk itulah, setelah Allah menceritakan sifat orang munafik, Allah sambung dengan perintah agar orang yang beriman memperbanyak sedekah. Di surat Al-Munafiqun, Allah berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Infakkanlah sebagian dari apa yang Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi kalian, kemudian dia meng-iba: "Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit saja, agar aku bisa bersedekah dan aku menjadi orang shaleh." (QS. Al-Munafiqun: 10).

Untuk itulah, seorang hamba hanya akan mendapatkan hakekat kebaikan dengan bersedekah, memberikan apa yang dia cintai. Allah berfirman,

لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ

"Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai." (QS. Ali Imran: 92)

Hadis berbicara tentang keajaiban Sedekah
a. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صدقة السر تطفىء غضب الرب

"Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah" (Shahih At-Targhib, 888)

b.  Dari Ka'b bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

والصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار

“Sedekah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air bisa memadamkan api”. (Shahih At-Targhib, 866)

c. Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن الصدقة لتطفئ عن أهلها حر القبور وإنما يستظل المؤمن يوم القيامة في ظل صدقته

"Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya." 
(Silsilah As-Shahihah, 3484).

Yazid – salah seorang perawi yang membawakan hadis ini – menceritakan: 'Dulu si Martsad, setiap kali melakukan satu dosa di hari itu maka dia akan bersedekah dengan apa yang dia miliki, meskipun hanya dengan secuil kue atau bawang.' 
(As-Silsilah As-Shahihah, 872).

d. Dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

داووا مرضاكم بالصدقة

"Obati orang sakit di antara kalian dengan sedekah." 
(Shahih At-Targhib, 744).

Ibnu Syaqiq menceritakan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ibnul Mubarak – guru Imam Bukhari -: 'Saya memiliki luka di lutut selama tujuh tahun, sudah coba diobati dengan berbagai macam cara, sudah konsultasi dokter dan tidak ada perubahan.' Ibnul Mubarak menyarankan, 'Buatlah sumur di daerah yang membutuhkan air. Saya berharap akan menghasilkan sumber air dan menyumbat darah yang keluar.' Diapun melakukannya dan sembuh. (Shahih At-Targhib)

e. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

"Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah', sementara malaikat satunya berdoa, 'Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.' 
(HR. Bukhari & Muslim).

f. Dari Al-Harits Al-Asy'ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang wasiat Nabi Yahya kepada bani israil. Salah satu isi wasiat itu, Nabi Yahya mengatakan,

وآمركم بالصدقة ومثل ذلك كمثل رجل أسره العدو فأوثقوا يده إلى عنقه وقربوه ليضربوا عنقه فجعل يقول هل لكم أن أفدي نفسي منكم وجعل يعطي القليل والكثير حتى فدى نفسه

Aku perintahkan kalian untuk banyak sedekah. Perumpamaan sedekah seperti orang orang yang ditawan oleh musuhnya dan tangannya diikat di lehernya. Ketika mereka hendak dipenggal kepalanya, dia bertanya: 'Bolehkah aku tebus diriku sehingga tidak kalian bunuh.' Kemudian dia memberikan yang dimiliki, sedikit atau banyak, sampai dia berhasil menebus dirinya. (Shahih At-Targhib, 877).

Betapa luar biasanya pengaruh sedekah. Setiap dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia merupakan ancaman baginya. Tumpukan dosa itu cepat atau lambat akan membinasakannya. Namun dia bisa selamat dari ancaman ini dengan memperbanyak sedekah, sampai dia bisa bebas dari neraka.

g. Sedekah sama sekali tidak mengurangi harta
Itulah jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

"Sedekah tidak akan mengurangi harta" (HR. Muslim)

h. Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

ذكر لي أن الأعمال تباهي، فتقول الصدقة: أنا أفضلكم

"Diceritakan kepadaku bahwa semua amal akan saling dibanggakan. Kemudia amal sedekah mengatakan: 'Saya yang paling utama diantara kalian'" (Shahih At-Targhib)

Hadis di atas hanya sebagian riwayat yang menunjukkan keajaiban Sedekah. Masih banyak riwayat lain yang menyebutkan keajaiban Sedekah. Mengingat demikian besar keutamaan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan umatnya untuk mengharapkan kenikmatan yang Allah berikan kepada dua jenis manusia, salah satunya adalah orang yang Allah beri harta, dan dia rajin bersedekah siang dan malam. (HR. Bukhari & Muslim).

Sedekah yang Paling Utama
Sedekah dengan banyak keutamaan di atas, tentu saja nilainya bertingkat-tingkat sesuai keadaan ketika bersedekah. Berikut beberapa keadaan yang menyebabkan sedekah kita nilainya lebih utama dari pada sedekah normal,

Pertama, sedekah secara rahasia
Merahasiakan sedekah akan lebih mendekati ikhlas. Karena itulah nilainya lebih besar dibanding sedekah yang diketahui orang lain. Allah berfirman,

إِن تُبْدُواْ الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِىَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتؤْتُوهَا الفُقَرَاءِ فَهُوَ خَيرٌ لَّكُمْ

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.." (QS. Al-Baqarah: 271).

Kedua, sedekah ketika masih sehat, kuat, dan punya harapan hidup lebih lama
Dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Sedekah seperti apakah yang paling besar pahalanya?' beliau menjawab:

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ، قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

"Engkau bersedekah ketika kamu masih sehat, rakus dengan dunia, takut miskim, dan bercita-cita jadi orang kaya. Jangan tunda sedekah sampai ruh berada di tenggorokan, kemudian kamu mengatakan: 'Untuk si A sekian, si B sekian, padahal sudah menjadi milik orang lain (melalui warisan).' (HR. Bukhari & Muslim)

Pada saat sehat, muda, umumnya manusia masih sangat butuh harta, dan cinta harta dan kekayaan. Bersedekah pada kondisi tersebut akan membutuhkan perjuangan yang lebih besar untuk melawan nafsunya, dibandingkan sedekah yang dilakukan oleh orang yang tidak lagi punya harapan banyak dengan kehidupan dunia karena sudah tua.

Ketiga, sedekah yang diberikan setelah menunaikan kewajiban nafkah keluarga
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الصَّدَقَةِ مَا كَانَ عَنْ ظَهْرِ غِنًى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

"Sebaik-baik sedekah adalah harta sisa selain jatah nafkah keluarga. Mulailah dari orang yang wajib kamu nafkahi." (HR. Bukhari & Muslim)
Sedekah ini bernilai lebih baik, karena dilakukan tanpa menelantarkan kewajibannya. Mengingat kaidah baku dalam syariat, amal wajib lebih didahulukan dari pada amal sunah.

Keempat, sedekah pada saat krisis
Orang yang memiliki sedikit, namun dia berani bersedekah, menunjukkan keseriusan dia dalam beramal, disamping sikap istiqamah yang dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya, 'Bagaimana bia demikian'

كان لرجل درهمان تصدق بأحدهما، وانطلق رجل إلى عرض ماله، فأخذ منه مائة ألف درهم فتصدق بها

"Ada orang yang memiliki 2 dirham, kemudian dia sedekahkan satu dirham. Sementara itu ada orang yang memiliki banyak harta, kemudian dia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekah." (HR. Nasai ).

Kelima, nafkah untuk keluarga
Barangkali banyak kepala keluarga yang belum terbayang, ternyata nafkah yang kita berikan kepada kelurga sejatinya bisa bernilai pahala. Dengan syarat, dilakukan dalam rangka mengharap pahala Allah. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الرجل إذا أنفق النفقة على أهله يحتسبها كانت له صدقة

"Seseorang yang memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dr Allah maka itu bernilai sedekah." (HR. Bukhari & Muslim)

Bahkan nafkah keluarga yang diniatkan utk beribadah kepada Allah, nilainya lebih besar dibandingkan yang disumbangkan untuk orang miskin. Karena nafkah keluarga hukumnya wajib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أربعة دنانير: دينار أعطيته مسكيناً، ودينار أعطيته في رقبةٍ، ودينار أنفقته في سبيل الله، ودينار أنفقته على أهلك، أفضلها الدينار الذي أنفقته على أهلك

“Ada 4 dinar: satu dinar kau berikan ke orang miskin, satu dinar kau sumbangkan untuk pembebasan budak, satu dinar untuk jihad fi sabililllah, dan satu dinar yang kau jadikan nafkah untuk keluarga, yang paling utama adalah satu dinar yang kau nafkahkan untuk keluarga”. 
(HR. Muslim)

Keenam, sedekah kepada kerabat
Sedekah ini lebih utama karena nilainya ganda: sedekah sekaligus mempererat silatur rahim. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصدقة على المسكين صدقة، وهي على ذي الرحم اثنتان صدقة وصلة

“Sedekah kepada orang miskin nilainya hanya sedekah. Sedekah kepada kerabat nilainya dua: sedekah dan menyambung silaturrahim.” (HR. Ahmad, Nasai, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Semoga bermanfaat
Allahu a'lam


KISAH KEAJAIBAN SEDEKAH


Ini adalah sebuah kisah keajaiban sedekah semoga menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa gemar bersedekah dan semoga dengan bersedekah Allah akan selalu memberi kemudahan Rezeki pada kita semua Amin...!!

Sahabat Mari kita simak kisah keajaiban sedekah berikut ini :


” Saat saya membuka - buka facebook, Salah seorang sahabat mengirimkan 
sebuah nasehat yang membuat hati tertegun dan Seketika saya merenung sebelumnya 
saya pernah selalu berpikir jika ada tukang minta- minta berbadan sehat saya tidak memberi
malah dalam hati saya menggerutu badan masih seger ko minta-minta. 
namun setelah saya baca tulisan dari teman saya saya benar-benar sekarang tidak perduli walaupun badanya terlihat sehat dan segar saat orang butuh saya beri sedikit dari apa yang ada di dompet saya, apalagi jika orang itu terlihat kumuh dan layu seperti benar-benar belum makan dan sudah tentu untuk anak yatim alhamdulillah jika ada rezeqi kami sisihkan untuk anak- anak yatim di sekitar tempat tinggal kami .



kita kembali kepada tulisan Pesan dari seorang sahabat melalui Facebook.
Ia mengirimkan sebuah ’surat cinta’ dari Rasulullah saw. 

Isi tulisanya sebagai berikut;

Rasulullah SAW pernah berkata:

Bahwa setiap masuk pagi, ada dua malaikat mengajukan permohonan 
mereka kepada Allah SWT. 

Malaikat pertama berdoa:
”Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. 

Yang kedua berdoa:
” Ya Allah jadikanlah semakin tidak punya orang yang pelit terhadap hartanya.”



Berbicara mengenai balasan dari Allah atas sedekah ataupun infaq yang telah kita keluarkan, sungguh kita butuh keyakinan yang sempurna, bahwa Allah akan mengganti dengan 
berlipat-lipat dari arah yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. 

Bukankah Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya? 

Dan Berikut ini adalah sekelumit pengalaman dari sahabat kami yang mengisahkan pengalaman keajaiban setelah bersedekah yang beliau kirimkan melalui email 
yang mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi Motivasi buat ikhwah sekalian.:

Berikut kisah dari sahabat kami :

Alhamdulillah, saya sekeluarga sejak beberapa bulan lalu belajar 
menguatkan keyakinan itu, bahwa Allah akan memberikan ganti 
yang lebih baik bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya. 

Dan dengan pengharapan yang besar kepada Allah bahwa Dia pasti akan 
memenuhi janjinya tanpa menunggu waktu yang lama. 
Saya dan istri juga mulai belajar merutinkan sedekah baik dikala lapang dan sempit. 
Dengan nilai besar ataupun kecil, dengan jalan menghadiahi orang tua atau saudara. 
Meski tidak seberapa namun kami belajar untuk mengasah keikhlasan semata karena Allah. Dan dengan jalan menyisihkan infaq untuk fii sabilillah

SubhanAllah, keyakinan itu semakin kuat. 
Dan janji Allah demikian nampak jelas. 
Salah satunya adalah pada aksi solidaritas Palestina untuk warga Ghaza yang lalu.
Saya dan istri memang orang yang berpenghasilan utama dari gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Beberapa penghasilan dari usaha lain (memang sudah menjadi komitmen) sementara tidak kami masukkan dalam penghasilan keluarga. 

Praktis kami menghidupi diri dengan gaji bulanan tersebut. 
Maka, kejadian uang habis sebelum jatuh tanggal menjadi hal yang lumrah dan biasa. 
Tapi kami tak berputus asa, bahkan kami makin semangat untuk 
berinfaq sekaligus menguatkan keyakinan terhadap janji-janji Allah.

Saat aksi Palestina 27 Januari lalu, kondisi kantong keluarga memang 
sedang kurang bersahabat. Baru 3 hari terima gaji, cuma tersisa beberapa rupiah saja. 
Bukan karena dibelanjakan konsumtif, karena kebetulan 
bulan Januari itu saya mengembangkan usaha yang terpaksa harus 
mengambil sebagian besar penghasilan bulanan yang biasanya saya terima.

Sebagian sisanya sudah pasti dibelanjakan untuk mujahidah 
kecil kami, Safiya Salwa Syahidah, yang saat ini menginjak usia 10 bulan. 
Namun, atas dasar cinta dan empati kepada saudara seiman 
di Ghaza, kami sekeluarga berangkat ke Monas dengan semua 
bekalmaal yang masih tersisa. Ada beberapa lembar uang kertas 
yang tersumpal dikantong celana. 

Sayangnya hanya 2 lembar yang signifikan nilainya. 
Beberapa yang lain hanya cukup untuk membeli makanan sederhana 
dan air minum untuk kami saat aksi siang harinya, termasuk buat Salwa. 
Itu pun mungkin tidak cukup.

Namun, saya sudah meniatkan untuk menginfaqkan 1 lembar dari 2 lembar 
yang cukup berharga itu, (jika tak layak disebut SANGAT berharga). 
Istri awalnya sedikit agak ragu, mengingat penghasilannya yang 
beberapa hari lagi keluar sudah ter-pos-pos sedemikian rupa. 
Sementara untuk melewati satu bulan kedepan masih sangat panjang. 
Sehingga sepeser dari uang yang tersisa menjadi sangat berarti. 
Sampai saat aksi solidaritas untuk Palestina itu lewat separuh jalan, istri 
masih berat hati. Namun bayang wajah duka lara saudara-saudara 
di Ghaza membuat menitik air mata ini. 

Saya coba terus meyakinkan istri, bahwa Allah pasti akan mengganti 
dengan yang jauh lebih banyak. 
Apalagi mengeluarkan sedekah karena Allah di kala sempit. 
 Allah pasti tak akan membiarkan begitu saja hamba-Nya 
yang punya ar-rajaa’ dan al-hubkepada saudaranya seiman.

Aksi itu sudah sampai dipenghujungnya, kami pun bersiap 
melangkah pulang seraya menunggu bus umum yang menuju ke Kota Tangerang. 
Saya merogoh saku celana dan seketika terhenyak, ternyata kami belum berinfak. 
Saya genggam beberapa lembar uang kertas di tangan. 
Dan kutatap wajah istri untuk meminta persetujuannya mengambil satu diantara 2 lembar uang yang sangat berharga itu, sebagaimana yang dari awal sudah diniatkan. 

Sementara 1 lembar lagi kami pakai untuk ongkos naik bus. 
Akhirnya, istripun mengangguk tanda setuju.
Saya pun bersyukur. Karena ‘pasukan pengumpul’ infaq dari 
panitia aksi sudah sangat jauh dari posisi kami, maka sembari meraih 
Salwa saya mendekati beberapa panitia petugas medis Aksi yang 
kebetulan sedang berhenti beberapa puluh meter di dekat kami. 

 Setelah sejenak kami beri penjelasan bahwa kami terlupa 
belum infaq, maka petugas medis bersedia menerima titipan tersebut dari kami. 
Salwa yang menggenggam uang itu, dan itu pertama kali baginya 
berlatih untuk berinfaq. Dalam hati, ucapan ‘bismillah’ saya kuatkan 
saat jemari mungil Salwa melepaskan satu lembar uang berharga itu. 

Dan akhirnya kami pulang dengan hati yang tentram, penuh syukur, dan berserah diri kepada Allah. Semoga sedikit dari rizki yang kami infaqkan bisa memberi manfaat untuk anak-anak Ghaza yang teraniaya dan tak mampu membeli susu.
Janji Allah itu tak pernah meleset dan ingkar. Allah memenuhi janji-Nya 
dengan cara-caranya sendiri. Belum genap 24 jam semenjak aksi itu, dari 
arah yang tak disangka-sangka, lewat tangan istri, Allah SWT memberikan 
ganti sejumlah uang sama persis dengan nilai uang yang kami infaqkan sehari sebelumnya. Saat istri menyampaikan kabar itu, mata saya berkaca-kaca. 

“Subhanallah, Engkau Maha menepati janji ya Allah”. 
Hati saya bergemuruh, bukan karena uang yang kami terima itu. 
Namun karena untuk yang kesekian kalinya bagi kami, Allah 
memenuhi janji-Nya secepat kilat.
Tidak sampai disitu, dari uang itu kami pun 
sepakat untuk menyedekahkan sebagiannya. 

Subhanallah, 10 hari kemudian lewat tangan istri kembali, lewat jalan 
yang tak disangka-sangka Allah menggantinya 7 kali lipat dari 
sebagian yang kami infaqkan. Dengannya kami pun menyedekahkan 
sebagian lagi dari yang 7 kali lipat itu, dan 2 hari berikutnya 
Allah yang Maha Kaya menggantinya 10 kali 
lipat dari yang kami sedekahkan. 

Padahal biasanya kami hanya menerima penghasilan 
dari gaji tetap bulanan saja yang tak ‘mungkin’ bertambah di tengah jalan.

Memang Allah benar-benar mengganti sedekah 
hamba-Nya dengan berlipat-lipat keberkahan. 
Bahkan di pagi ini, saya mendapatkan kabar gembira 
lewat telepon dari seorang ikhwah yang bekerjasama mengelola 
sebuah usaha baru yang saya jalankan. 
Bahwa usaha yang dibuka hari pertama dihari kemarin 
menunjukkan optimisme keuntungan yang sangat menjanjikan. 

Alhamdulillah.

Terima kasih yaa Rabbana, mudah-mudahan Engkau anugerahkan 
kepada kami dan saudara-saudara kami rezeki yang melimpah lagi berkah. 
Agar kami bisa kembali bersedekah (dengan lebih banyak) untuk 
saudara-saudara kami lainnya yang Engkau uji dengan kekurangan 
harta dan ketakutan. Ya Allah, sayangi dan kasihilah saudara-saudara kami 
di Ghaza dengan kuasa-Mu. Lindungi dan selamatkan mereka dari 
orang-orang yang dzalim lagi aniaya.

Ya Allah Dzat yang Maha Perkasa, kami beriman atas janji-janji-Mu. 
Dan semakin kuat atas keyakinan kami, bahwa iman, ukhuwah, dan rezeki 
di tangan hamba-Mu tak pernah Engkau sia-siakan. 
Engkau pasti bersama kami dengan keimanan kami, dan 
Engkau pasti menjadi Penolong kami dengan persaudaraan kami. 
Tak ada nilai yang kecil di sisi Engkau, ketika sedekah ini dibalut 
dengan keikhlasan dan cinta atas nama-Mu.